Wamenag; Larangan Mudik Bagian Upaya Khifdun Nafs Yang Menjadi Perintah Agama

man-headphones

Wakil Menteri Agama Zainut Tauhid Sa’adi

CN, Jakarta - Masyarakat harus mematuhi larangan mudik Hari Raya Idul Fitri 1442 H pada 6 – 17 Mei 2021 sebagai upaya pencegahan penyebaran Covid-19. Larangan mudik juga menjadi perhatian semua pihak, baik Wapres KH Ma’ruf Amin maupun Menag Yaqut Cholil Qoumas.

“Saya melihat penegasan Wapres dan Menag sama, bahwa ada larangan mudik pada 6 – 17 Mei yang harus dipatuhi. Tidak ada dispensasi, larangan ini berlaku untuk semua,” demikian ditegaskan Wakil Menteri Agama Zainut Tauhid Sa’adi di Jakarta, Kamis (29/4/2021).

Menurut Wamenag, masyarakat Indonesia perlu belajar dari penyebaran Covid-19 yang demikian masif di sejumlah negara, utamanya India. Larangan mudik pada 6 – 17 Mei diterapkan dalam konteks itu, sebagai langkah antisipasi penyebaran Covid-19.

“Ini bagian upaya menjaga jiwa atau khifdhun-nafs yang juga menjadi perintah agama,” ujarnya.

Terkait adanya permohonan dispensasi, Wamenag mengatakan agar itu dilakukan sebelum masa larangan. Saat ini sedang berlaku masa pengetatan. 

“Masyarakat yang akan melakukan perjalanan, sebaiknya mengikuti ketentuan yang berlaku pada masa pengetatan tersebut,” tegasnya.

Wamenag menjelaskan, Bapak Wapres memang memiliki perhatian kepada para santri, sehingga beliau mengimbau para pihak khususnya Pemda bisa memfasilitasi para santri yang akan pulang karena pondok pesantrennya meliburkan. 

“Menurut kebiasaan di pesantren libur Ramadhan dimulai setelah tanggal 20 Ramadhan atau bertepatan pada tanggal 2 Mei 2021 artinya sebelum masa larangan berlaku, sehingga jika ada santri yang akan pulang maka harus dipastikan kepulangan mereka tetap mematuhi protokol kesehatan agar terhindar dari virus Covid 19,” pungkas Wamenag.

Terpopuler

To Top