Amandemen UUD 1945 Belum Sempurna

man-headphones

CN, Jakarta - Menyikapi problem politik yang terjadi ditanah air, Akademisi Universitas UHAMKA Dr. Desvian Bardansyah menegaskan bahwa problem politik yang terjadi ditanah air sebenarnya beada pada partai politik (parpol). Menurutnya parpol sebenarnya memiliki telatif client  antara pimpinan dengan anggotanya. Tapi sayangnya hal itu tidak ditunjukkan oleh partai Golkar dan PDIP sebagai parpol yang paling senior. Ada kelompok pemilik uang, kubu elit, dan yang lainnya hanya menjadi pengurus partai. Karena elit umumnya hanya rekrutmen parpol sehingga tidak berlaku pada cita-cita parpol.

"Saya tidak terlalu sepakat jika kembali pada UUD asli, sebab itu juga akan menjadi masalah bagi kita seperti halnya yang disampaikan oleh pengubah UUD pada tahun 98. Problem politik kita sebenarnya pada parpol kita, yang sampai sekarang tidak berubah," ungkap Akademisi Universitas UHAMKA, Dr. Desvian Bardansyah pada Dialog Publik yang diselengarakan oleh Gerakan Mahasiswa (GEMA) Indonesia dengan tema: "Kembali ke UUD 1945 : Sebuah Kemajuan atau Kemunduran" di Jakarta, Kamis (10/11/2016).

Lebih lanjut Bardan mengatakan, perdebatan akan UUD 1945 sangatlah panjang karena berkaitan langsung dengan negara kita. 
Era reformasi mendorong kita untuk mengkaji konstitusi. Amandemen yang sudah terjadi sebanyak empat kali di DPR, terakhir tahun 2002 ternyata belum memuaskan banyak pihak. Amandemen saat ini cenderung memberi ruang adanya perpecahan negara. Ini dilihat bagi mereka yang pensiun dari militer (purnawirawan). Tentunya rakyat tidak akan rela jika demokrasinya diambil, sama halnya dengan konstitusi yang jika dirumuskan kembali tidak akan berjakan dengan baik.

"Dasar negara kita cenderung sudah tercederai sehingga terjadilah kepemimpinan Soeharto sampai waktu paling panjang. Banyak aktor yang menggagas amandemen namun banyak yang merasa terganggu dengan amandemen tersebut," ujar Desvian. 

Terpopuler

To Top