Pernikahan Dini Picu Terjadinya Kasus KDRT

man-headphones

Ilustrasi

CN, Jakarta - Deputi Bidang Perlindungan Hak Perempuan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) Vennetia R. Danes mengatakan Pernikahan dini memicu banyak terjadinya kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Belum matangnya kesiapan mental, kesehatan reproduksi dan keuangan menjadi faktor paling dominan mudahnya terjadi KDRT. "Batas usia minimum laki-laki boleh menikah menurut Undang-Undang Perkawinan adalah 16 Tahun, sementara perempuan 18 tahun. Kenyataannya banyak kasus KDRT terjadi di usia tersebut lantaran tidak adanya kesiapan untuk menikah," katanya usai membuka acara Sosialisasi Pencegahan KDRT Sejak Dini di depan 1000 anak setingkat SMA dan Perguruan Tinggi, di Jailolo, Halmahera Barat, Selasa (11/10/2016).

Menurut Venne, berdasarkan data tahun 2015 kasus KDRT yang mendominasi kaum perempuan terjadi di 31 Provinsi dengan jumlah mencapai 69%. Kekerasan tersebut umumnya di alami kelompok usia 0-17 tahun dengan persentase sebanyak 30%.

"Saat ini sudah ada dua daerah percontohan yang dinilai berhasil menekan angka KDRT yaitu Dumai dan Jailolo. Khusus di Jailolo setidaknya ada enam kasus perbulan yang dilaporkan ke Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak," ungkap Venne.

Menurut Venne program sosialisasi pencegahan KDRT ini sejalan dengan strategi Three Ends yang dikembangkan KPPPA dan untuk mengimplementasikan Peraturan Menteri PP dan PA Nomor 6 Tahun 2013 tentang Pelaksanaan Pembangunan Keluarga sebagai bagian integral dari Undang-Undang tentang Penghapusan KDRT.

Sementara itu Wakil Bupati Halmahera Barat, Ahmad Zakir Mando mengatakan fokus pemerintah saat ini sosialisasi kepada calon-calon pemimpin rumahtangga alias generasi muda. Meskipun tidak dipungkiri dewasa ini juga tidak sedikit laki-laki yang menjadi korban KDRT.

Terpopuler

To Top