Ditjen Kebudayaan Jadikan Jalur Rempah Dalam Program Prioritas Tahun 2021

man-headphones

Dirjen Kebudayaan, Hilmar Farid pada acara Taklimat Media secara virtual.

CN, JAKARTA - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, pada tahun 2021 ini, menjadikan Jalur Rempah sebagai salah satu program prioritas, dengan fokus program dititikberatkan kepada rekontruksi Jalur Rempah untuk mendukung penetapannya sebagai World Heritage; sedangkan Karavan Budaya sebagai bentuk diplomasi dan pengembangan pemanfaatan Cagar Budaya, Warisan Budaya Takbenda, dan Objek Pemajuan Kebudayaan; dan membangun dan menjaga kesadaran akan Jalur Rempah sebagai jati diri melalui kampanye-kampanye seperti Seminar Internasional. Yang di tahun 2020 fokus pada pengenalan kembali Jalur Rempah dan pembuatan platform-platform pendukungnya.

Desa Pemajuan Kebudayaan juga menjadi salah satu program prioritas pada tahun 2021 ini. "Program ini dimaksudkan untuk mengaktifkan ekosistem pemajuan kebudayaan masyarakat di desa dengan mengenali dan menarasikan potensi budaya desa berbasis budaya, selain itu, bertujuan menggali potensi ekosistem budaya yang dimiliki desa dari sudut pandang masyarakat atau komunitas desa itu sendiri sebagai pemilik kebudayaannya sehingga dapat dimanfaatkan untuk menyejahterakan masyarakat desa itu sendiri," kata Dirjen Kebudayaan, Hilmar Farid pada acara Taklimat Media Program 2021 Ditjen Kebudayaan Kemendikbud secara virtual, Senin (11/01).

Hilmar mengungkapkan  sebagai sarana untuk mempublikasikan potensi budaya tersebut agar lebih produktif dan kreatif mengembangkan budaya yang dimilikinya maka akan dibuat Pasar Budaya.

Pengembangan Cagar Budaya dan Warisan Budaya TakBenda menurut Hilmar, nantinya potensi dan kearifan lokal dari suatu daerah, mulai dari kawasan, penduduk sekitar hingga teknologi yang dimiliki oleh CB maupun WBTB akan dikembangkan untuk membawa kesejahteraan bagi masyarakat, akan juga menjadi program prioritas Ditjen Kebudayaan di tahun 2021.

Selain itu salah satu program yang akan diselenggarakan adalah Repatriasi (pengembalian kembali) sejumlah benda Cagar Budaya milik Indonesia yang selama ini berada di luar negeri.

Pemanfaatan CB lebih jauh lagi juga dapat ditemui di program Museum Nasional Indonesia (MNI) sebagai Badan Layanan Umum (BLU). Pengkonversian MNI sebagai BLU tidak lepas dari banyaknya potensi Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP), Potensi kerjasama yang luas, peluang inovasi dalam pengelolaan CB, banyaknya tenaga profesional yang dilibatkan dalam meningkatkan kualitas event, dan tingginya minat masyarakat dalam mengembangkan kemitraan pengelolaan CB dan museum.

"Untuk menuju BLU, setidaknya ada tiga fokus utama yang dikerjakan, yakni: Pengelolaan koleksi nasional; Pengelolaan venue budaya; dan Pengembangan Jasa Layanan," ujarnya.

Kendati Pandemi COVID-19 pada tahun 2020 menjadi tantangan dalam penyaluran bantuan, terutama dalam hal verifikasi lapangan, Fasilitasi Bidang Kebudayaan sebagai salah satu stimulus yang diberikan oleh Direktorat Jenderal Kebudayaan kepada perseorangan maupun kelompok seniman atau budayawan serta masyarakat luas, sepanjang tahun 2020 telah diberikan kepada 196 penerima dari total proposal yang masuk sebanyak 3.427 proposal.

Dijelaskan Hilmar, selama pandemi Covid-19 yang menerpa Indonesia sepanjang tahun 2020 lalu, disiasati Ditjen Kebudayaan dengan menayangkan program Bahagia di Rumah yang tidak hanya menjadi panggung alternatif bagi para pelaku seni budaya, tetapi juga menjadi sarana hiburan sekaligus membantu masyarakat umum secara luas belajar banyak tentang kekayaan seni dan budaya negeri sendiri.

Menanggapi kondisi serupa di awal tahun 2021 ini, Ditjen Kebudayaan mengembangkan program Media Budaya, sebuah saluran yang dikhususkan untuk menayangkan konten-konten kebudayaan.

"Jika di tahun-tahun sebelumnya konten budaya tidak terpola dengan baik, maka melalui Media Budaya ini diharapkan dapat terintegrasi menjadi suatu omnichannel dengan output media berbasis streaming maupun melalui sebuah laman (website). Lebih jauh lagi melalui Media Budaya diharapkan senantiasa ada panggung bagi para pelaku seni budaya untuk dapat tampil, maupun bagi masyarakat untuk tetap dapat mengakses tontonan yang menarik dan edukatif, dalam berbagai situasi dan kondisi," kata Hilmar Farid.

"Seluruh program prioritas Ditjen Kebudayaan di tahun 2021 ini, akan kembali diselenggarakan dengan mempertimbangkan metode pelaksanaan yang bergantung dengan situasi pandemi pada nantinya," tutup Dirjen Kebudayaan, Hilmar Farid. (*)

Terpopuler

To Top