Melalui Media, Persoalan Palestina Harus Terus Dikampanyekan

man-headphones

foto: istimewa

CN, JAKARTA - Adara Relief Internasional menghadirkan tokoh pemuda Palestina, Husammuddin Mahmud dan Syaima Abualatta yang menceritakan kondisi Palestina yang di jajah zionis Israel.

Pada acara International Solidarity Day for Palestine: Solidarity for Peace yang digelar melalui secara daring, Minggu (29/11), Husammuddin Mahmud menyampaikan sudah 130 tahun lebih deklarasi Balfour dan Resolusi 181 sudah berusia 73 tahun hingga saat ini persoalan yang dihadapi bangsa Palestina belum bisa diselesaikan.

Husammuddin Mahmud mengatakan beberapa alasan mengapa persoalan Palestina harus terus dikampanyekan. Pertama, bergabungnya Israel menjadi anggota PBB pada tahun 1949, memberikan syarat pada Israel untuk mematuhi resolusi 181 dan resolusi 194 dimana dibolehkan imigram Palestina kembali ke negaranya. Tetapi Israel tidak pernah mematuhi kedua resolusi tersebut. Padahal penerimaan Israel sebagai anggota PPB diantaranya harus memenuhi syarat dua resolusi tersebut bukan karena layak sebagai anggota PBB.

Kedua, beberapa negara menjalin hubungan normalisasi dengan zionis Israel. Ini adalah pengkhianatan dan kejahatan pada Palestina. Mereka telah berkhianat terhadap surat Al Isra. Selain itu, mereka melakukan kejahatan moral, yaitu menumpahkan darah-darah anak Palestina yang mempertahankan tanah dan masjid-nya.

Menurutnya, Bangsa Palestina telah menempuh jalur diplomasi dengan membawa kejahatan Israel ke dunia internasional. Walaupun Palestina tahu bahwa PBB tidak memberikan hak sesungguhnya pada Palestina.

“Ini penting, Dunia harus tahu persoalan yang menimpa bangsa kami belum selesai. Kami akan terus berjuang termasuk melalui media semampu kami,” tuturnya.

Sementara itu Syaima Abualatta mengatakan setelah 70 tahun dari peristiwa pengusiran tersebut, banyak warga Palestina mati syahid, dan masih banyak yang bertahan di negerinya.

“Generasi sekarang tidak pernah lupa dengan peristiwa ini. Kami hanya punya 2 pilihan, yaitu  kemenangan dan merebut Palestina, atau syahid di jalan Allah,” tegas Syaima Abualatta.

Syaima Abualatta bersyukur bahwa banyak bangsa di dunia termasuk Indonesia terus menerus memberikan dukungan kepada Palestina.

Dalam kegiatan International Solidarity Day for Palestine, Adara juga menghadirkan sejumlah aktivitis Palestina di Tanah Air. Diantaranya Jeffry Ronny dari Komunitas Assalamu’alaikum Palestina (Aspal) yang mengajak semua pihak, dari golongan apapun, agama apapun, untuk berjuang membela Palestina.

Risa Fitri, dari Komunitas Peduli Al Quds mengatakan persoalan Palestina bukanlah persoalan agama seperti yang selama ini masyarakat pikirkan. Palestina adalah masalah kemanusiaan dimana di negara tersebut banyak hak-hak masyarakat yang tidak dipenuhi, atau dilanggar oleh zionis Israel.

Karena itu juga mengajak semua masyarakat ambil bagian dalam perjuangan melawan penjajahan zionis Israel. “Palestina menjadi kilbat pertama orang Islam. Di tanah tersebut para nabi diturunkan,” katanya.

Dalam kesempatan tersebut Adara Relief Internasional juga mengumumkan hasil pengumpulan donasi yang digelar 25-29 November 2020 senilai Rp173.262.000. Jumlah donasi tersebut dipastikan akan terus bertambah dengan dibukanya lelang dua lukisan tentang Palestina melalui media sosial. (*)
 

Terpopuler

To Top