Keunikan Kampung Pecinan, Generator Ekonomi Kawasan Sekitar

man-headphones

foto: istimewa

CN, JAKARTA - Keunikan Kampung Pecinan sebagai pusat kegiatan perdagangannya bisa menjadi generator ekonomi di kawasan sekitarnya. Pemerintah daerahpun memperhitungkan kawasan pecinan yang bisa hidup sepanjang masa dari sektor perdagangan dan pariwisata.

Bagaimana masa depan “kampung Pecinan’ dalam menghadapi era industry 4.0 yang serba digital dan akan mengurangi peran manusia yang menjadi kekhasan dan tradisi mereka? Akankah modernisasi pada kehidupan komunitas cina akan mengurangi daya tarik pariwisata yang masih kental sebagi ‘Kota Tua’.

Harapan tetap memiliki kampung pecinan yang lebih teratur, bersih dan tetap menjaga tradisi seni budaya khas cina, dibahas dalam seminar nasional arsitektur & budaya yang diselenggarakan oleh Pusat Studi Permukiman Kampung Kota ( PSPKK ) Universitas Trisakti dan Jurusan Arsitektur Universitas Trisakti yang bekerja sama dengan Kenari Djaja, perusahaan penyedia Kunci dan kelengkapan pintu.

Direktur KENARI DJAJA, Hendry Sjarifudin mengatakan seminar yang berjudul  KAMPUNG PECINAN, Kenyataan & Angan-Angan diharapkan bisa memberikan arah kemana perkembangan kawasan komunitas cina ini nantinya, karena banyak potensi yang dapat digali dan dimanfaatkan sebagai elemen sejarah dalam merajut komunitas pemukiman dan perdagangan pecinan modern yang tetap menarik wisatawan.

"Kami merasa terhormat dapat mendukung Seminar membahas potensi ‘KAMPUNG CINA’ yang banyak terdapat di kota-kota di dunia. Bagi  kami, masukan pakar Arsitektur merupakan suatu yang menggembirakan, mengingat banyak sahabat KENARI DJAJA yang masih tinggal dan tetap berniaga secara turun-temurun disana, dalam suasana yang khas berbudaya Cina," ungkapnya.

Hendry Sjarifudin berharap melalui seminar ‘KAMPUNG PECINAN, Kenyataan dan Angan-Angan’ ini, banyak ide kreatif dan inovatif dalam menjaga kelestarian peninggalan bersejarah di kawasan perkotaan melalui pemikiran akademik dan teknologi industry modern.

Sementara itu, Ketua Jurusan Arsitektur Universitas Trisakti, Etty R. Kridarso menyambut baik kolaborasi para Arsitek dari beberapa Universitas yang memiliki keahlian tentang kawasan Pecinan diperkotaan ini.

"Harapannya kita bisa mendapatkan banyak ide yang inovatif untuk membangun salah tujuan pariwisata urban yang unik dan tetap popular ini," tuturnya.

Beberapa pemikiran tentang potensi kampung pecinan seperti di Jawa Tengah meliputi filosofi dan sejarahnya akan di bahas oleh Prof. Dr-Ing. LMF Purwanto, seorang Peneliti tentang Kampung Pecinan dari Universitas Katolik Soegijapranata, Semarang. Kehidupan di kampung tersebut yang banyak menarik wisatawan’ akan diperkuat oleh hasil penelitian dari aspek pemukiman dan sosial budaya di kawasan pecinan di Yogyakarta, yang dilakukan oleh Dr.Ir. FX Eddy Arinto, Mars. seorang ahli Perumahan dan Permukiman dari Universitas Atma Jaya Yogyakarta, yang melihat kebiasaan hidup dan desain hunian di komunitas ini.

Berbagai potensi di kampung pecinan memiliki benang merah sejarah dengan awal kedatangan bangsa cina disampaikan oleh Punto Wijayanto ST. MT, arsitek muda dari Universitas Trisakti yang melihat kampung pecinan adalah bagian dari kawasan kota Pusaka di Indonesia. Menurutnya, kawasan di kampung urban ini memiliki peluang untuk lebih maju di masa depan, meski memiliki banyak potensi heritage.

Seminar ini ditujukan kepada para arsitek milenial, mahasiswa jurusan arsitektur, arsitek perkotaan, dan para pengembang property serta masyarakat umum yang memegang peran dalam bisnis dan pariwisata di kawasan Heritage perkotaan. (*)

Terpopuler

To Top