Di Ultahnya Ke 74, RRI Luncurkan Program Tanggap Bencana Kentongan

man-headphones

(Kedua dari kiri) Direktur Utama RRI M. Rohanudin. (Foto: Isk)

CN, JAKARTA - Dalam kaitan pengelolaan masalah kebencanaan di tanah air harus ada upaya penyadaran publik oleh berbagai stakeholder dan adanya peran media massa yang fokus pada program mitigasi bencana.

Sebagai jawaban atas kebutuhan akan adanya media massa yang concern terhadap mitigasi bencana, Radio Republik Indonesia (RRI) meluncurkan Program Tanggap Bencana Kentongan sekaligus merayakan HUT RRI ke 74 berlangsung di Auditorium Yusuf Ronodipura RRI Pusat Jakarta, Sabtu (7/9/2019). Program ini diluncurkan oleh Direktur Utama RRI M. Rohanudin, saat hari jadi ke 74 Radio Republik Indonesia, 11 September 2019.

Direktur Utama RRI M. Rohanudin mengungkapkan persoalan yang sangat sedikit disentuh dalam kaitan pengelolaan masalah kebencanaan di tanah air adalah proses edukasi melalui mitigasi bencana.

Menurutnya kondisi ini sangat memprihatinkan, sebab banyak lembaga hanya fokus pada proses penginformasian saat peristiwa bencana terjadi serta aksi recovery nya. Padahal,  dampak bencana dapat ditekan bila ada program mitigasi bencana.

"Pengertian mitigasi sendiri adalah serangkaian upaya untuk mengurangi resiko bencana, baik melalui pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan kemampuan menghadapi ancaman bencana. Lebih mudahya disebut tanggap bencana," kata Rohanudin.

Lebih lanjut Rohanudin menekankan Radio Republik Indonesia menetapkan diri secara konsisten menjadi Radio Tanggap Bencana. Inspirasinya dari program BOSAI di NHK Jepang.  Di RRI sendiri, program ini disebut KENTONGAN.

"Nama kentongan dikaitkan dengan kearifan lokal pada sebagian masyarakat Indonesia sebagai penanda terjadinya suatu peristiwa. Program Kentongan ini, merupakan serangkaian upaya tanggung jawab RRI sebagai lembaga penyiaran publik untuk terlibat dalam penyadaran masyarakat akan pentingnya mitigasi bencana," tuturnya.

Dijelaskannya, Program Kentongan berupaya mengedukasi publik menjadi masyarakat tangguh bencana, sebab pertolongan pertama saat terjadi bencana adalah pada diri orang itu sendiri.

Program kentongan juga berupaya menjadikan tanggap bencana sebagai bagian gaya hidup, mulai dari sigap menghadapi bencana, mengatasi bencana dan peduli terhadap lingkungan.

Dalam kesempatan yang sama, Deputi Bidang Operasi dan Kesiapsiagaan Basarnas, Nugroho Budi Wiryanto mengapresiasi acara sarasehan mitigasi bencana untuk mensosialisasikan masalah tanggap bencana kepada masyarakat Indonesia.

"Acara ini sangat bagus sekali dan keterkaitan saya dalam hal ini dari Basarnas, mempunyai tugas pokok mencari, menolong dan menyelamatkan korban jiwa baik itu pada kecelakaan baik pesawat maupun kapal laut dan kondisi-kondisi yang membahayakan jiwa manusia," kata Nugroho.

Dikatakannya Basarnas melaksanakan siaga 1X24 jam baik siaga terjadi bencana maupun siaga terjadinya kecelakaan-kecelakaan yang tidak kita inginkan.

Sementara itu, Asisten Deputi Tanggap Bencana Kemenko PMK, Nelwan Harahap mengatakan mitigasi menjadi bagian penting dalam penanggulangan bencana.

"Karena disinilah upaya maksimal bisa kita lakukan bagi setiap orang, apapun profesinya, apapun lembaganya, berapa besar kewenangan dan level kepemimpinannya. Ini menjadi bagian terpenting karena disinilah kita bisa menghindar dari kerugian dan kerusakan juga menghindari korban yang sekecil-kecilnya," ungkap Asisten Deputi Tanggap Bencana Kemenko PMK, Nelwan Harahap.

Acara Sarasehan Mitigasi Bencana dan Peluncuran Program Tanggap Bencana Kentongan juga dihadiri oleh Anggota Komisi I DPR RI Roy Suryo, Staf Ahli Menteri PUPR Bidang Keterpaduan Pembangunan Achmad Gani Ghazali Akman, M.Eng.Sc., Kasubdit Kesiapsiagaan dan Mitigasi Bencana Kementerian Sosial Tetri Darwis, Anggota Dewan Pers Asep Setiawan dan tamu undangan khusus lainnya. (*)
 

Terpopuler

To Top