Angkie Yudistia Luncurkan Buku Berjudul Become Rich As a Socio preneur

man-headphones

CEO Thisable Enterprise, Angkie Yudistia. (FOTO: Istimewa).

CN, JAKARTA - CEO Thisable Enterprise, Angkie Yudistia merilis buku ketiganya berjudul "Become Rich As a Socio-preneur", Buku ini rampung diselesaikan selama 1,5 tahun.

Angkie Yudistia menyampaikan yang mendasari menulis buku ini kali pertama saat terjun langsung ke dunia komunitas disabilitas sekitar tahun 2009, membuat dirinya merasa memiliki banyak teman yang seperjuangan, walaupun dengan layar belakang pendidikan yang berbeda.

"Saya terus belajar mencari lebih banyak tentang isu disabilitas baik dalam skala nasional dan internasional," kata Angkie Yudistia saat konferensi pers peluncuran Buku Ketiganya: Become Rich As a Socio-preneur di Jakarta, Jumat (5/7/2019).

Ia mengungkapkan Keingintahuannya itu membawanya belajar isu disabilitas hingga ke luar negeri untuk skala internasional. "Waktu itu saya mengikuti program di Bangkok, Thailand. Lalu skala Europe di Strasbourg, Prancis, skala United States, Washington DC - San Fransisco, Ohio, Minessota. Dan selalu kembali ke Tanah Air dengan kaya akan ilmu pengetahuan tentang perkembangan isu disabilitas secara global," tuturnya.

Lebih lanjut Angkie menambahkan dari sinilah dasar dirinya membuat buku ini setelah 10 tahun berkecimpung di dunia social enteprise.

"Dulu, di Indonesia sangat jarang sekali hingga tidak ada teman diskusi, tapi sekarang banyak sekali yang mendirikan social enterprise, bahagia rasanya semakin banyak yang terus berjuang. Dan buku ini adalah pengalaman teknis seluk beluk social enterprise," kata ibu dua anak ini.

Untuk mewujudkan buku ini, menurutnya banyak hal untuk melakukan riset, tidak sekadar membaca lebih banyak buku. Juga flashback pengalaman, browsing , dan berdiskusi, itu perlu berbulan bulan lamanya hingga buku ini berhasil diterbitkan.

Terkait sociopreneur, Angkie berpendapat sekaligus memprediksi perkembangan di Indonesia akan semakin banyak. Khususnya untuk generasi muda, karena mereka juga berusaha ingin memecahkan masalah atau ketidakseimbangan yang terjadi di masyarakat.

"Walaupun tujuan utama seorang sociopreneur bukanlah profit, tetapi lebih untuk meluaskan gerakan yang dilakukannya ke lingkungan masyarakat yang lebih luas," kata Angkie.

Menurutnya dengan berbisnis untuk kepentingan sosial, seorang sociopreneur Indonesia membutuhkan modal, business plan, hingga sistem marketing yang jelas dan efektif agar berjalan konsisten hingga bertahun-tahun lamanya dan semakin besar dampak positif yang dihasilkan.

Keberhasilan seorang sociopreneur tidak hanya dilihat dari profit atau keuntungannya saja, tapi juga dampak yang di hasilkan dari usahanya. Kalau tidak bisa menghasilkan keuntungan finansial dari usahanya, bagaimana mungkin bisa terus melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi lingkungan sekitarnya.

"Jadi, seorang sociopreneur sama seperti entrepreneur lainnya, yakni harus pandai berhitung. Memiliki modal untuk usaha dan juga menghasilkan keuntungan untuk mengembangkan usahanya," jelas Angkie Yudistia. (*)

Terpopuler

To Top