Melestarikan Alam Lewat Budaya Dalam Festival Sindoro Sumbing

man-headphones

Festival Sindoro Sumbing 2019. (FOTO: Istimewa)

CN, JAKARTA - Sebagai masyarakat dari negara yang terletak di Kawasan Cincin Api (Ring of Fire), kehidupan mayoritas penduduk Indonesia dapat dikatakan terkait dengan keberadaan gunung-gunung di lanskapnya.

Gunung-gunung turut membentuk tradisi dan budaya masyarakat yang tinggal turun temurun di kawasan sekitarnya sedari dulu hingga kini, yang membentuk tradisi dan budaya adiluhung sebagai bagian dan identitas khazanah budaya Indonesia.

Sindoro-Sumbing sendiri merupakan dua gunung di Indonesia, yang letaknya berdekatan, serta memiliki bentuk dan tinggi yang hampir identik. Keidentikan tersebut tidak hanya berupa pada fisik gunung-gunung tersebut, namun juga tradisi dan budaya yang tumbuh dan berkembang di tengah-tengah masyarakatnya yang terletak di wilayah Kabupaten Wonosobo dan Kabupaten Temanggung.

Masyarakat Temanggung dan Wonosobo kaya akan kearifan lokal dalam bentuk cerita dan seni pertunjukan rakyat, yang di dalamnya terkandung ajakan dan pesan untuk menjaga lingkungan. Salah satu folklore yang ada di lereng Sindoro-Sumbing, adalah cerita “Mapageh Sang Watu Kulumpang”.

Tertuang dalam Prasasti Wanua Tengah ialah upacara penutup dari rangkaian “Manusuk Sima”, sebuah upacara penetapan suatu daerah sebagai tanah perdikan (terbebas dari pajak) karena ditetapkan menjadi daerah yang berkewajiban “Mangreksa Wana” (menjaga hutan).

Sebelum upacara penutup tersebut, masyarakat pada masa itu menggelar rangkaian acara pesta rakyat mulai dari pesta kuliner, pertunjukan kesenian rakyat, dan lain sebagainya, sebagai ungkapan rasa syukur.   
Oleh karena itu diperlukan sebuah upaya strategis melalui pendekatan kreatif dalam mengemas ajakan menjaga alam di kedua wilayah tersebut dan bersifat kolaboratif antara masyarakat, komunitas, pemerintah, swasta, dan akademisi.

Salah satu upaya strategis yang dilakukan oleh pemerintah Kabupaten Temanggung berkolaborasi dengan Kabupaten Wonosobo adalah deklarasi dan penetapan wilayah Sindoro-Sumbing menjadi daerah yang wajib dijaga kelestariannya.

Kegiatan tersebut akan dikemas dalam rangkaian acara bertajuk FESTIVAL SINDORO SUMBING 2019 (FSS 2019) dengan tema “LESTARI”. Lestari alamnya, lestari budayanya, lestari masyarakatnya.

Dalam penyelenggaraan festival yang dirancang sebagai event unggulan berbasis budaya tentu membutuhkan tata kelola dan manajemen yang baik. Platform Indonesiana melakukan pendekatan pada festival-festival berbasis budaya untuk peningkatan standar tata kelola kegiatan budaya dan manajemen penyelenggaraan kegiatan budaya melalui dukungan atas penyelenggaraan festival-festival di daerah, baik penguatan terhadap festival yang sudah ada sebelumnya maupun mendukung penyelenggaraan festival yang baru yang relevan dengan potensi dan karakter budaya di kawasan masing-masing.

Platform kebudayaan Indonesiana adalah inisiatif dan upaya yang dilakukan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI untuk mendorong dan sekaligus memperkuat upaya Pemajuan Kebudayaan sesuai dengan amanat UU No. 5 Tahun 2017 melalui gotong royong antara pemerintah dan masyarakat dalam penguatan kapasitas daerah untuk menyelenggarakan kegiatan budaya sesuai azas, tujuan, dan objek pemajuan kebudayaan yang ditetapkan dalam UU No. 5 Tahun 2017.

Melalui pendukungan pada kegiatan-kegiatan berbasis budaya juga diharapkan dapat menumbuhkan ekosistem kebudayaan yang mengakar kuat pada kearifan-kearifan lokal masyarakat setempat.

Pada penyelenggaraan Festival Sindoro-Sumbing 2019 diisi dengan berbagai kegiatan berbasis budaya seperti Ngopi di Pampringan yang mengupas budaya dan ritus minum kopi setempat, Sarasehan Budaya dan Workshop Kostum Jarang Kepang, Java International Folklore Festival featured: ASEAN Contemporary Dance Festival; Mangreksa Wana “Mapageh Sang Watu Kulumpang”; Bedhol Kedaton; Birat Sengkala dan Parade Tapa Bisu; serta Ruwat Cukur Rambut Gembel dan Pentas Tari Kolosal Topeng Lengger. (*)
 

Terpopuler

To Top