PPD Kembali Jadi Raja Jalanan Ibukota

man-headphones

Direktur Utama Perum PPD Pande Putu Yasa

CN, Jakarta - Perusahaan Umum Pengangkutan Penumpang Djakarta (Perum PPD) telah bangkit dan kembali berjaya, menguasai jalanan Ibukota. Wajah PPD yang sejak tahun 1990-an dan 2000-an kental dengan citra sebagai perusahaan yang merugi besar, pelayanan buruk dan sering diwarnai demo pegawai, kini sudah tak terlihat, yang terlihat adalah armada-armada bus yang melayani warga, lalu lalang menyisir dan mewarnai jalan-jalan ibukota dan sekitarnya.

Bersama Pande Putu Yasa, sosok yang mencintai dan mengabdikan sepanjang karirnya di PPD, berhasil mengatasi persoalan-persoalan kompleks yang membelit BUMN itu, mulai dari masalah SDM, gaji rendah, kebocoran keuangan, kondisi armada, inefesiensi, hingga utang menumpuk. Perusahaan ini pun kedodoran membayar gaji 11.000 pegawai dan uang pensiun.

Kala itu, pemerintah pun cenderung ‘lempar handuk’ terhadap Perum PPD. Akibatnya muncul gagasan Perum PPD digabung dengan Perum DAMRI, digabung dengan Perum DAMRI dan PT Pos Indonesia, dijual ke Pemprov DKI Jakarta, bahkan ada pilihan melikuidasi. “Saya ditugaskan memproses penutupan Perum PPD, dan menjual asset untuk menutupi biaya sebagai efek dari likuidasi. Batin saya tak bisa menerima. Perusahaan tempat saya mengabdi selama ini harus ditutup dan saya yang ditugaskan memprosesnya. Belum lagi saya harus menjual asset, yang bukan tidak mungkin membuka peluang bagi saya terseret kepada persoalan hukum,” ungkap Direktur Utama Perum PPD, Pande Putu Yasa, dalam diskusi bertajuk Bedah Peran Strategis BPTJ, di Jakarta, Kamis (21/3/2019).

Menurut Putu, dirinya mendapat penentangan keras dari sejumlah pegawai. Mereka pesimistis PPD dapat diselamatkan karena kondisinya sudah teramat parah. “Namun saya yakinkan mereka bahwa kita harus bisa menbangun lagi PPD. Perbaikan dengan kesisteman, terukur, sistematis dan terkontrol dengan baik harus diyakni dapat menyelamatkan PPD,” tegasnya.

Putu menambahkan, perbaikan PPD digenjot melalui komunikasi intensif dengan Kementerian BUMN dan Kementerian Perhubungan. Meyakinkan bahwa PPD masih dapat diselamatkan. “Ternyata kami mendapatkan dukungan luar biasa dari Kementerian BUMN dan Kementerian Perhubungan,” ungkapnya.

Saat ini PPD memiliki sekitar 1.000 bus, sebanyak 495 armada melayani 34 rute Transbusway melalui kontrak dengan PT Transjakarta. Perum PPD juga mengoperasikan bus Transjakarta Premium. “Dalam operasional bus ini, kami dibantu betul oleh Dirjen Perhubungan Darat dan Badan Pengelola Transportasi Janodetabek (BPTJ). Dengan 1.000 bus saat ini, kami tak hanya mengoperasikan bus Transjakarta, tetapi juga JR Connexion dan JA Connexion, yang melayani publik dari permukiman dan pusat perbelanjaan ke lokasi lain, termasuk Bandara Soekarno-Hatta,” jelasnya.

Putu menjelaskan, Perum PPD tidak hanya beroperasi di kawasan Jabodetabek, tetapi juga ekspansi ke wilayah lain, termasuk Karawang. Ekspansi bisnis ini bekerja sama dengan sejumlah pengembang, termasuk Adhi Karya dan Podomoro Group. Performansi dahsyat PPD mengundang pengembang sentra bisnis dan operator bus mengajukan proposal kerja sama. Bahkan di antaranya menawarkan kesempatan untuk mengoeprasikan bus di Kepulauan Riau.

“Kami memang ingin terus memperluas wilayah bisnis. Kami bahkan sedang mempersiapkan angkutan pariwisata dan logistik. Marketnya sangat besar,” ujar Putu.

Dengan performa dari kinerja yang mengkilat serta ekspansi bisnis yang tepat, maka tidak mengherankan laba diraih hanya dalam tempo setahun setelah agenda penyehatan digelar. Tahun 2013 menjadi tonggak penting dan sekaligus titik balik dari rugi miliaran rupiah menjadi meraih untung sekitar Rp158 juta. Kinerja mengkilat keuangan terus menanjak. Tahun 2014 meraih Rp280 juta, 2015 Rp2,19 miliar, 2016 Rp9,74 miliar, 2017 Rp3,38 miliar dan tahun 2018 Rp18.52 miliar.

Melihat kinerja mentereng PPD saat ini, Kepala BPTJ Bambang Prihartono menilai bahwa, di PPD telah terjadi lompatan sejarah berupa melonjaknya performansi. “Dan itu patut diberi dua jempol. Keren!” Tuturnya.

Prestasi PPD sekarang juga dipuji oleh mantan Direktur Utama Perum PPD Dwi Wahyono mengatakan, pada era kemimpinannya, terdapat sekitar 1.000 bus dengan 11.000 pegawai. Dengan demikian, rasio pegawai 1:11. Artinya satu bus ‘menghidupi’ sebelas pegawai. “Pada saat itu, saya dapat mencapai laba operasi, gaji pegawai dibayar tepat waktu, THR dibayar penuh, dan dapat mencicil pembayatan tagihan kepada supplier. Itu tanpa menjual asset,” jelasnya.

Kondisi sekarang, dia menuturkan ada 1.000 bus PPD dengan jumlah pegawai sekitar 400 orang. “Membalikkan rasio pegawai ini merupakan prestasi tersendiri Pak Putu. Sangat tidak mudah mengurangi jumlah pegawai. Saya salut kepada Pak Putu dapat membangun PPD seperti ini. Sangat maju,” pungkas Dwi Wahyono.

Terpopuler

To Top