Kembalikan Ospek Pada Fungsinya Agar Tidak Terjadi Penyimpangan

man-headphones

Foto: Pengamat Sosial Mintarsih A. Latif

CN, Jakarta - Pengamat Sosial Mintarsih A. Latif menilai tindakan kekerasan yang terjadi dalam kegiatan di lingkungan institusi pendidikan, terutama di universitas berpotensi terjadinya dugaan tindak pidana atau delik-delik yang diatur dalam KUHP misalnya, terjadi bentakan, makian dan pemukulan, punya peluang untuk dijerat dengan pasal-pasal terkait dengan perbuatan tidak menyenangkan, penghinaan, hingga penganiayaan.

"Kegiatan pengenalan kampus atau dikenal dengan perpeloncoan atau ospek seharusnya menjadi kisah manis yang bisa dikenang seumur hidup bukan menjadi ajang penyiksaan atau balas dendam senior-junior yang berujung maut," kata Mintarsih di Jakarta, Senin (11/2).

Menurut Mintarsih jika kita merujuk pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), ada dua arti dari kata orientasi. Pertama orientasi diartikan sebagai peninjuan untuk menentukan sikap (arah, tempat, dsb) yang benar dan tepat. Sedangkan arti yang kedua adalah pandangan yg mendasari pikiran, perhatian atau kecenderungan. Berangkat dari dua definisi ini, kita tahu bahwa kegiatan orientasi mahasiswa dilaksanakan sebagai sebuah kegiatan yang memberikan pandangan bagi mahasiswa-mahasiswa baru yang mendasari pemikiran dan kecenderungan mereka dalam menjalankan kehidupan mereka di kehidupan kampus agar mereka memiliki sikap yang benar dan tepat.

"Pihak kampus harus memberikan pengawasan selama berlangsung kegiatan orientasi dan memberikan sanksi tegas terhadap pelaku yang melanggar peraturan kampus terkait Ospek," ungkapnya.

Lebihlanjut Mintarsih mengatakan ospek jika dikembalikan ke fungsi yang sebenarnya sesuai jalurnya maka ospek tidak akan menimbulkan penyimpangan. Pihak akademis kampus harus melakukan kontrol dan mengawasi jalannya ospek. Siapa saja panitia yang terlibat, kegiatan apa yang dilakukan, harus benar-benar diketahui. (*)

Terpopuler

To Top