Diseminasi Capaian 4 Tahun Kinerja Kemenristekdikti

man-headphones

Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) melakukan refleksi dan ekspos capaiannya kinerjanya selama empat tahun terakhir (2014-2018) dalam acara Seminar Nasional Disemina

CN, Jakarta - Penghujung tahun 2018, Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) melakukan refleksi dan ekspos capaiannya kinerjanya selama empat tahun terakhir (2014-2018) dalam acara Seminar Nasional Diseminasi Kinerja Kemenristekdikti dan Perguruan Tinggi se Jawa Barat di Universitas Islam Bandung (21/12).

Seminar Nasional ini diawali dengan lantunan ayat suci Al Qur’an dan dibuka secara resmi oleh Rektor UNISBA Edy Setiadi. Hadir sebagai pemateri Sekretaris Jenderal Kemenristekdikti Ainun Na'im mewakili Menristekdikti Mohamad Nasir yang berhalangan hadir dan Anggota Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) yang juga merupakan guru besar ilmu hukum tata negara Mahfud MD.

Ainun Na'im mengungkapkan bahwa Kemenristekdikti terus berupaya meningkatkan daya saing bangsa yang merata dan berkeadilan. Sasaran strategis Kemenristekdikti diukur dengan tiga indikator kinerja yaitu indeks pendidikan tinggi, indeks inovasi dan indeks reformasi birokrasi. Nilai ketiga indeks tersebut menunjukkan peningkatan yang menggembirakan.

Indeks pendidikan tinggi Indonesia sangat penting untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusi Indonesia yang mengalami bonus demografi. Menurut Ainun surplus demografi tersebut harus dididik dengan baik, kalau tidak akan menjadi beban bukan keuntungan. Melalui berbagai kebijakan Kemenristekdikti, Angka Partisipasi Kasar (APK) yang pada 2018 mencapai 34,58%, meningkat secara signifikan dibandingkan tahun 2015 yang masih pada angka 29,9%.

“  Akses masyarakat kurang mampu meningkat, 10 tahun lalu gap orang kaya dan orang tidak mamou yang mengakses pendidikan tinggi lebar, sekarang sudah menyempit. Semakin banyak masyarakat miskin melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Salah satu program afirmasi Kemenristekdikti bagi kalangan tidak mampu adalah Beasiswa Bidikmisi. Hingga 2018, 325.423 mahasiswa mendapatkan manfaat dari Beasiswa Bidikmisi,” imbuh Ainun.

Tantangan di bidang pendidikan tinggi masih ada yaitu jumlah lulusan bisa bekerja dan masa tunggu lulusan untuk bekerja. Ainu menuturkan masih terdapat 8% dari jumlah lulusan perguruan tinggi yang belum bekerja atau masa tunggu kerjanya lama. Berbagai kebijakan dikeluarkan Kemenristekdikti antara lain kerja lama angka meningkatkan tingkat relevansi pendidikan dengan cara kerjasama akademisi, industri dan pemerintah, pendidikan vokasi harus memiliki partner industri dan akan difasilitasi kemenristekdikti, pendidikan lebih fleksibel, terbuka dan bermutu, pendekatan ‘multi entry multi exit’,’ lifelong learning’ dan kebijakan lainnya.

Sesjen Ainun menyebutkan tingginya bonus demografi Indonesia pada 2030 mendatang, hendaknya menjadi peluang bagi Indonesia untuk menggenjot roda ekonomi. Pertumbuhan ekonomi tentu harus didukung Sumber Daya Manusia (SDM) yang kompeten dan berdaya saing tinggi. Dalam rangka penguatan pertumbuhan ekonomi nasional, Sesjen Ainun juga menekankan pentingnya perguruan tinggi untuk beradaptasi dengan Revolusi Industri 4.0, sehingga tujuan pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development Goals atau SDGs) dapat terwujud. 

“Mengacu pada arahan Presiden RI dan pidato-pidato beliau sebelumnya, bukan saatnya bersaing antarnegara, namun berkolaborasi dan bekerja sama demi pembangunan SDM dan penguatan Inovasi Teknologi,” ucap Sesjen Ainun. 

Lebih lanjut, untuk meningkatkan Indeks Inovasi Kemenristekdikti memiliki berbagai program penguatan riset dan pengembangan dan penguatan inovasi. Kemenristekdikti telah meluncurkan program hibah pendanaan startup melalui program Perusahaan Pemula Berbasis Teknologi dan Calon Perusahaan Pemula Berbasis Teknologi. Melalui skema ini, perusahaan startup meningkat dari 52 pada tahun 2015 menjadi 956 di tahun 2018, target pada 2019 lebih dari 1000 perusahaan startup lahir. 

“Perguruan tinggi tidak cukup mendidik namun juga menghasilkan produk dan mahasiswa yang menjadi pengusaha dengan membuka perusahaan startup,” ungkap Ainun.

Kepada para peserta Seminar Nasional, Ainun memaparkan berbagai produk inovasi karya anak bangsa yang lahir dari perguruan tinggi, lembaga penelitian dan Lembaga Pemerintah Non Kementerian dalam koordinasi Kemenristekdikti. Ainun mengajak para pimpinan perguruan tinggi dan mahasiswa yang hadir untuk menjadikannya bangga akan produk inovasi dalam negeri dan menjadi motivasi pengembangan produk inovasi di masa yang akan datang. Beberapa produk inovasi unggulan tersebut antara lain Katalis Merah Putih ITB, Cat Anti Radar BATAN, Traktor Portable IKOPIN, Bibit Buah Unggul IPB dan produk inovasi lainnya.

Pada kesempatan yang sama, Anggota Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) yang juga merupakan guru besar ilmu hukum tata negara Mahfud MD turut memberikan pandangannya terhadap tantangan milenial di era disrupsi teknologi. Mahfud mengingatkan milenial di era Revolusi Industri 4.0, tetap harus memegang teguh Ideologi Pancasila dalam berkehidupan berbangsa dan bernegara, sebagai bagian dari empat pilar kebangsaan (Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika, dan NKRI). 

“Indonesia merupakan negara majemuk dengan beragam agama, budaya, dan suku bangsa. Perbedaan bukanlah persoalan,” ujar Mahfud. 

Mahfud mengingatkan perguruan tinggi mempunyai tanggung jawab besar membekali mahasiswanya dengan nilai-nilai kebangsaan, karena perguruan tinggi merupakan tempat lahirnya calon pemimpin bangsa. Mahfud menambahkan Negara ingin Pancasila diajarkan di perguruan tinggi dengan tujuan mempersatukan bukan memecah belah.

“ Kampus harus menggali metodologi yang tepat untuk mengajarkan nilai-nilai kebangsaan kepada generasi milenial, generasi Z dan sebentar lagi akan muncul generasi Alfa,” pungkas Mahfud.

Rektor UNISBA Edy Setiadi mengapresiasi Kemenristekdikti yang telah memberikan kepercayaan kepada Unisba sebagai tuan rumah seminar ini. Edy berharap acara ini bermanfaat bagi semua pihak, terutama bagi para milenial agar siap menyongsong Revolusi Industri 4.0 tanpa meninggalkan identitasnya sebagai Bangsa Indonesia.

Seminar ini dihadiri pimpinan perguruan tinggi dan perwakilan mahasiswa se-Jawa Barat, Kepala LLDikti Wilayah IV Uman Suherman, Kepala Biro Kerjasama dan Komunikasi Publik (KSKP) Nada Marsudi, Civitas Academica Unisba, dan undangan lainnya. *

Terpopuler

To Top