Perkembangan Produk Mainan Anak Selama Tahun 2018

man-headphones

Foto: Kepala Biro Hukum, Organisasi dan Humas BSN, Iryana Margahayu dan Direktur Utama PT. Sinar Harapan Plastik (SHP), Hary Tio di kantor PT. SHP, Jakarta, Rabu (12/12).

CN, Jakarta - Badan Standardisasi Nasional (BSN) menetapkan beberapa SNI tentang Mainan Anak. Sebagian SNI tersebut telah diadopsi Kementerian Perindustrian ke dalam Peraturan Menteri Perindustrian No. 24/M-IND/PER/4/2013 Tentang Pemberlakuan Standar Nasional Indonesia (SNI) Mainan secara wajib, dengan perbaikan pertama di Peraturan Menteri Perindustrian No 55/M-Ind/PER/11/2013 dan perbaikan kedua di Peraturan Menteri Perindustrian No. 111/M-Ind/PER/12/2015.

Dalam Peraturan Menteri tersebut, definisi mainan adalah setiap produk atau material yang dirancang  atau dengan jelas diperuntukkan penggunaannya oleh anak dengan usia 14 tahun ke bawah.

"Dengan adanya peraturan tersebut, produk mainan anak yang beredar di pasar Indonesia harus memenuhi SNI," kata Kepala Biro Hukum, Organisasi dan Humas BSN, Iryana Margahayu saat acara NGOBRAS SNI bersama PT. Sinar Harapan Plastik (SHP) di kantor PT. SHP, Jakarta, Rabu (12/12).

SNI Mainan Anak yang diberlakukan secara wajib oleh Kementerian Perindustrian meliputi
 (1) SNI ISO 8124 – 1:2010, Keamanan mainan – Bagian 1: Aspek keamanan yang berhubungan dengan sifat fisis dan mekanis; (2) SNI ISO 8124 – 2:2010, Keamanan mainan – Bagian 2: Sifat mudah terbakar; (3) SNI ISO 8124-3:2010, Keamanan mainan – Bagian 3:Migrasi unsur tertentu, dan (4) SNI ISO 8124-4:2010, Keamanan mainan – Bagian 4: Ayunan, seluncuran dan mainan aktivitas sejenis untuk pemakaian di dalam dan di luar lingkungan tempat tinggal, dan (5) SNI IEC 62115:20111 Mainan elektrik- Keamanan. (6) SNI 7617:2010 Tekstil - Persyaratan zat warna azo, kadar formaldehida dan kadar logam terekstraksi pada kain untuk pakaian bayi dan anak, serta (7) EN 71-5 Chemical toys (sets) other than experimental sets.

Iryana mengungkapkan latar belakang pemberlakuan secara wajib SNI Mainan Anak salah satunya adalah karena mempertimbangkan resiko atas penggunaan mainan.

Menurutnya beberapa resiko dari penggunaan mainan yang tidak aman, seperti bahaya tertelan dan tersedak. Sebagai contoh, asesoris yang tertempel pada boneka, bisa lepas dan tertelan. Kemudian, bahaya kerusakan alat pendengaran yang ditimbulkan suara seperti sirine mobil-mobilan. Yang lebih membahayakan adalah bahaya pada mata seperti pistol mainan atau panah-panahan. Juga bahaya terjerat atau tercekik yang ini biasa dijumpai pada permainan tali. Bahaya tersayat dan tergores, dari mainan yang terbuat dari bahan plastik, kayu, logam dan mika. Bahaya terjatuh yang biasa dijumpai pada ayunan atau seluncuran. Bahaya terjepit, tersetrum, terpapar zat kimia berbahaya, serta terbakar adalah resiko bahaya yang bisa saja menimpa buah hati kita.

SNI yang ditetapkan BSN secara prinsip memuat persyaratan mutu yang menjadikan mainan aman digunakan. Berikut ini penjelasan dari masing-masing SNI tersebut.

1). SNI ISO 8124 - 1 yang berlaku untuk semua mainan. Standar ini berlaku untuk mainan pada saat awal diterima konsumen, dan sebagai tambahan, setelah mainan digunakan pada kondisi normal serta perlakuan kasar kecuali ada keterangan khusus.. Selain itu, Persyaratan SNI ISO 8124 - 1 ini menerangkan kriteria yang dapat diterima untuk karakteristik struktur mainan, seperti bentuk, ukuran, kontur, pengaturan jarak (misalnya kerincingan, bagian-bagian kecil, ujung dan tepi tajam, dan celah garis engsel) sebagaimana kriteria yang dapat diterima untuk sifat tertentu dari beberapa kategori mainan (seperti nilai energi kinetik maksimum untuk proyektil yang ujungnya tidak memantul (non-resilient tipped projectile) dan sudut ujung minimum (minimum tip angles) untuk mainan yang dinaiki (ride-on toys).

2). SNI ISO 8124 - 2 yang mengatur tentang kategori bahan mudah terbakar yang dilarang digunakan pada semua mainan, dan persyaratan mudah terbakar pada mainan tertentu ketika terkena sumber api yang kecil.

3). SNI ISO 8124 - 3 menentukan persyaratan maksimum dan metoda sampling dan ekstraksi sebelum uji untuk migrasi dari unsur antimoni, arsen, barium, kadmium, kromium, timbal, merkuri dan selenium dari bahan mainan dan bagian mainan kecuali bahan yang tidak dapat diakses.

4). SNI ISO 8124 - 4 menetapkan persyaratan dan cara uji mainan aktivitas untuk penggunaan keluarga yang ditujukan bagi anak-anak di bawah 14 tahun untuk bermain di dalamnya. Produk yang tercakup di bagian ISO 8124-4 ini termasuk ayunan, seluncuran, jungkat-jungkit, korsel/komedi putar (komidi putar), tunggangan bergerak, papan panjatan, ayunan bayi, dan produk lainnya yang ditujukan untuk menahan beban satu atau lebih anak.

5). SNI IEC 62115:2011 Mainan elektrik- Keamanan menetapkan persyaratan mutu yang setidaknya menyangkut fungsi tersendiri pada mainan yang menggunakan perangkat elektrik.

6). SNI 7617:2010 Tekstil - Persyaratan zat warna azo, kadar formaldehida dan kadar logam terekstraksi pada kain untuk pakaian bayi dan anak. Standar ini menetapkan  persyaratan mutu zat warna azo dan kadar formaldehida pada kain untuk pakaian bayi dan anak dari berbagai jenis serat tekstil meliputi kain tenun dan kain rajut.

7). EN 71-5 Chemical toys (sets) other than experimental sets.

Salah satu industri penerap SNI adalah PT. Sinar Harapan Plastik yang selanjutnya disebut PT SHP. SHP merupakan Produsen mainan anak-anak terkemuka di Indonesia bermerek SHP TOYS untuk dipasarkan di dalam Negeri dan WINNY WILL untuk dipasarkan di luar Negeri.

Lokasi Pabrik : 
Jl. Kamal raya Kav.1 No.2 Kamal Kalideres Jakarta Barat
Email     : shp_toys@gmail.com
Web    : www.shptoys.com

PT. SHP merupakan sebuah Perusahaan manufactur plastik injection yang memproduksi mobil-mobilan dan sepeda mainan tunggang berbahan baku plastik. Perusahaan ini berdiri sejak tahun 1985, dan pada tahun 2008 PT. Sinar Harapan Plastik mulai mengembangkan produknya dengan memproduksi mainan besar atau mainan tunggang hingga sekarang, dengan kapasitas produksi saat ini mencapai ± 120.000 unit/bln.

"PT Sinar Harapan Plastik selalu mengedepankan mutu dan keselamatan anak-anak yaitu dengan selalu mengikuti persyaratan Standar yang diberlakukan oleh pemerintah Indonesia dan peraturan dari negara-negara lain yang menjadi tujuan pasar ekspor kami," kata Direktur Utama PT. Sinar Harapan Plastik (SHP), Hary Tio.

Ia menjelaskan salah satu persyaratan standar yang sudah dimiliki, yaitu :

-  Penerapan Sistem Management Mutu ISO 9001:2015 
o    Sertifikat No. ID 13/02484
-  Penerapan Standar SNI dan Sertifikasi SNI : 
    1. SNI ISO 8124-1:2010; 
       2. SNI ISO 8124-2:2010;
       3. SNI ISO 8124-3:2010;
       4. EN 71-5;
       5. IEC 62115:2011.
o    Sertifikat  SNI No. 02818DN-489-LSPro PPMB

Keseriusan PT. Sinar Harapan Plastik dalam menerapkan SNI telah ditunjukan dengan beberapa kali memperoleh penghargaan SNI Award :
o    SNI Award 2015
o    SNI Award 2016
o    SNI Award 2017
o    SNI Award 2018 

"Dengan diperolehnya beberapa kali penghargaan tersebut PT. Sinar Harapan Plastik menjadi role model bagi industri yang lain khususnya Industri mainan anak-anak dalam penerapan wajib SNI," tuturnya.

PT Sinar Harapan Plastik memproduksi mainan anak-anak bermerek SHP TOYS & WINNY WILL atau merupakan sebuah Perusahaan manufaktur plastik Injection yang memproduksi mobil-mobilan dan sepeda mainan anak-anak berbahan baku plastik (Polypropilene) dan terdiri dari komponen lainya.
Bahan baku Plastik diperoleh dari Dalam Negeri dan Luar Negeri
Dalam Negeri (Indonesia)    : PT. Chandra Asri TBK
Luar Negeri (Saudi Arabia)    : Boroge LTD (Aramco)

Komponen lainnya berasal dari Indonesia dan China.

PERKEMBANGAN PRODUK MAINAN ANAK DI INDONESIA

Berdasarkan data yang didapat dari APMI (Asosiasi Pengusaha Mainan Indonesia), jumlah industri mainan anak sebanyak 22 Industri dan hanya terdapat 5 Industri mainan tunggang salah satunya adalah PT. Sinar Harapan Plastik ( SHP TOYS). Adapun data dari BSN menyebutkan terdapat 766 merk mainan anak dari 131 perusahaan. Sementara itu, Lembaga Sertifikasi Produk (LsPro) yang memiliki ruang lingkup sertifikasi mainan anak sebanyak 20 LsPro.

Lebihlanjut Dirut SHP yang juga pengurus APMI berharap arus impor dapat di lock sehingga mainan yang masuk ke Indonesia benar-benar barang/mainan yang berkualitas sesuai standar SNI, Pengawasan yang baik terhadap masuknya barang/mainan impor, Fasilitas untuk industri lokal seperti tax holiday, rekonstruksi mesin produksi dan BMDTP (Bea Masuk Di Tanggung Pemerintah). *

 

Terpopuler

To Top