KKI Sebagai Cermin Kepribadian dalam Kebudayaan

man-headphones

Foto: Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) RI Muhadjir Effendy.

CN, Jakarta - Kongres Kebudayaan Indonesia 2018 ini merupakan cerminan dari usaha untuk berkepribadian dalam kebudayaan. Tanpa adanya sikap itu, mustahil kebudayaan nasional dapat dikelola dengan baik.

Budaya kebangsaan saat ini tengah berhadapan dengan berbagai tantangan. Narasi politik SARA jelas menjadi tantangan utama.

"Orang mulai berpikir dalam perspektif golongan daripada perspektif kebangsaan. Interaksi berbagai budaya global yang dibawa oleh globalisasi juga berpotensi menggerus imajinasi kebangsaan kita. Semua ini membuat budaya kebangsaan menjadi kurang mengemuka dalam hidup sehari-hari," kata Mendikbud RI, Muhadjir Effendy dalam sambutannya pada penutupan KKI 2018 yang di hadiri Presiden RI Joko Widodo di Panggung utama Kubah Bambu di komplek Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, Jakarta, Minggu sore (9/12).

Mendikbud menjelaskan sesuai amanat UU No. 5 / 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan, roh dari Kongres Kebudayaan Indonesia 2018 ini memperkuat ketahanan budaya. Akan tetapi, ketahanan budaya itu tidak bisa diperkuat dengan menarik diri dari pergaulan luas antar bangsa.

Ketahanan budaya itu hanya bisa diperkuat dengan fokus pada pemajuan kebudayaan lewat pelindungan, pengembangan dan pemanfaatan seluruh aset kebudayaan nasional dan pembinaan SDM dan lembaga di bidang kebudayaan.

Kongres Kebudayaan Indonesia 2018 juga dilandasi oleh etos gotong royong lintas pemangku kepentingan dan lembaga. Berbagai unsur perwakilan dari para pegiat budaya di daerah, berbagai dinas yang membidangi urusan kebudayaan di daerah, serta kementerian/lembaga terkait, ikut dilibatkan dalam proses menuju Kongres Kebudayaan Indonesia 2018.

"Kita semua menyadari, kebudayaan tidak bisa ditangani secara sektoral semata, sebagai salah satu sektor di antara sektor-sektor pembangunan lain, melainkan hanya bisa ditangani secara lintas sektoral, dengan sinergi antar pemangku kepentingan dan pengambil kebijakan. Semangat untuk memajukan kebudayaan nasional dalam Kongres Kebudayaan Indonesia 2018 ini diterjemahkan ke dalam penghargaan atas keaneka-ragaman budaya. Berbagai praktik seni dan budaya dari berbagai daerah ditampilkan dalam Kongres ini," ungkap Mendikbud.

Lebihlanjut Mendikbud juga mengatakan dalam rangkaian acara tersebut, telah diselenggarakan aneka rupa kegiatan seni dan budaya, mulai dari 10 forum debat publik mengupas topik-topik paling hangat dan terkini di bidang kebudayaan, 12 forum kuliah umum dari para tokoh pemikir dan penggerak kebudayaan yang legendaris, 4 forum pidato kebudayaan dari para tokoh bangsa, 8 pertunjukan seni dan budaya mulai peragaan busana dari sampai pagelaran wayang kulit, konser musik kekinian yang menampilkan 12 band ternama, 8 forum inspiratif dari para pelopor di bidangnya, 2 pameran objek-objek pemajuan kebudayaan, serangkaian aktivitas mural bersama seniman street art, belasan lokakarya budaya dan bazar rakyat bertema kuliner maritim.

Keseluruhan acara ini menghadirkan Kongres Kebudayaan Indonesia 2018 bukan saja sebagai forum musyawarah tetapi juga suatu festival budaya. Semua itu dalam semangat menghargai dan memperkaya keaneka-ragaman budaya.

"Kehadiran Presiden dalam Kongres Kebudayaan Indonesia 2018 ini memperteguh komitmen kita bersama untuk memajukan kebudayaan nasional," tutup Mendikbud Muhadjir Effendy. *

Terpopuler

To Top