Kapal Di Bawah 5000 GT Dilarang Layani Lintasan Merak Bakauheni

man-headphones

Direktur Teknik dan Operasional PT. ASDP Indonesia Ferry, La Mane (Kiri). Direktur Jenderal Perhubungan Darat, Budi Setiyadi (Kanan).

CN, Jakarta - Pemerintah akan tegas memberlakukan PM 88 tahun 2014 terkait kapal yang melayani di lintas Merak-Bakauheni harus berukuran minimal 5.000 Gross Tonnage (GT). “Sejak 2014, Pemerintah telah memberikan kesempatan bagi operator kapal lintas Merak-Bakauheni untuk mengaplikasikan peraturan tersebut hingga 24 Desember 2018 mendatang.” Demikian diungkapkan Direktur Jenderal Perhubungan Darat, Budi Setiyadi di Jakarta, Rabu (7/11/2018).

Menurut Dirjen Budi, untuk mengantisipasi peningkatan demand melalui jalan tol Trans Sumatera dan jalan Tol Merak (Jawa), pemerintah telah melakukan langkah-langkah antisipasi berupa peningkatan kualitas pelayanan, diantaranya melakukan pengaturan kapal yang beroperasi, meningkatkan kapasitas dermaga eksisting dan membangun dermaga baru, serta meningkatkan kualitas layanan angkutan penyeberangan. “Toleransi yang diberikan oleh PM 88 ini agar para operator untuk membangun (kapal) baru kemudian mengalihkannya ke lintasan lain. Atau yang di bawah 5.000 GT akan ditingkatkan kualitasnya sehingga bisa bertambah menjadi 5.500 GT atau 6.000 GT,” tutur Dirjen Budi.

Dirjen Budi menjelaskan bahwa, selain aturan tentang kapal yang melayani di lintas Merak-Bakauheni harus berukuran minimal 5.000 Gross Tonnage (GT), dalam PM 88 tersebut, Pemerintah juga memberi kesempatan usaha bagi operator untuk melakukan investasi atau peremajaan kapal serta mengawasi secara berkesinambungan terhadap pemenuhan standar pelayanan minimal melalui Balai Pengelola Transportasi Darat (BPTD). "Setelah kita lakukan kajian pada 2014, ternyata kapal yang di bawah 5.000 GT muatnya penumpang dan kendaran tidak terlalu banyak, namun waktu tunggu naik kendaraan dan waktu berlayarnya sama dengan yang di atas 5000 GT,” ujar Dirjen Budi.

Dirjen Budi juga mengatakan, hingga saat ini jumlah kapal yang mengalami peningkatan kapasitas sebanyak 21 unit, penambahan kapal baru sebanyak 25 unit, serta jumlah kapal yang direncanakan keluar sebanyak 9 unit, sehingga total kapal yang beroperasi di atas 5.000 GT per tanggal 24 Desember 2018 sebanyak 68 unit, “diharapkan 68 unit ini sejalan dengan pembangunan infrastruktur di 2019 dengan adanya jalan tol Lampung-Palembang serta sesuai dengan permintaan yang ada.” Katanya.

Pada kesempatan yang sama  Direktur Teknik dan Operasional PT. ASDP Indonesia Ferry, La Mane menyatakan bahwa pihaknya mendukung sepenuhnya kebijakan pemerintah. “Beberapa dermaga di Merak dan Bakauheni akan ditingkatkan kapasitasnya. Kami juga lakukan penguatan dermaga bahkan kami antisipasi kapal sampai dengan 10.000 GT,” tutur La Mane. 

La Mane juga menjelaskan bahwa PT. ASDP Indonesia Ferry tengah menyiapkan dermaga eksekutif dan diharapkan telah rampung pada pertengahan Desember 2018.

Terpopuler

To Top