Seruan Peringati 47 Tahun PEPERA Tidak Demokratis

man-headphones

Ketua Mess Papua "Cendrawasih" di Jakarta,  Ferry Inggamer

CN, Jakarta - Lagi-lagi Orang Asli Papua (OAP) menyangkal kiprah United Liberation Movement For West Papua (ULMWP)) dan Komite Nasional Papua Barat (KNPB) sebagai gerakan sosial warga Papua yang berjuang untuk kemerdekaan 'rakyat Papua Barat', seperti yang selama ini diklaim oleh kedua gerakan tersebut dalam berbagai forum diskusi hingga aksi-aksi dijalanan.

Kehadiran mereka dianggap tidak mengaspirasikan keinginan warga Papua yang sesungguhnya. Warga Papua yang sebenarnya bahkan tidak pernah berniat memerdekakan diri atau berpisah dari NKRI. Karena itu ajakan  ULMWP dan KNPB untuk menggelar aksi demonstrasi memperingati 47 tahun Penentuan Pendapat Rakyat (PEPERA) sangat tidak demokratis, dan tidak layak diikuti.

Seperti yang diungkapkan oleh Ketua Mess Papua "Cendrawasih" di Jakarta,  Ferry Inggamer hari ini (Rabu, 13/07/2016) ketika menanggapi seruan
ULMWP dan KNPB terkait Aksi Demo Damai yang rencananya akan dilaksanakan pada tanggal 14 Juli 2016 disejumlah kota, menurutnya seruan yang disampaikan oleh para aktivis kedua gerakan tersebut bagaikan mimpi disiang bolong. Aktivitas mereka justru membuat keadaan menjadi tidak tenang dan kacau. Mereka mengatakan tidak ada orang/pemimpin dari  tanah Papua yang bisa diandalkan. Semua anggapan itu menurut Ferry merupakan upaya pembodohan.
Ferry hanya bisa tertawa manakala mendengar Orang Asli Papua (OAP) ingin menentukan nasib sendiri. Sebab baginya istilah itu justru membuat keadaan semakin kacau, perebutan yang terjadi nantinya justru akan membuat keadaan di Papua semakin carut-marut.

" Dorang itu mimpi di siang bolong, dorang membikin tra tenang dan kacau orang Papua, tra ada orang atau pimpinan Papua yang bisa diandalkan, bodoh smua itu. Sa ketawa saja kalau mendengar orang Papua ingin menentukan nasib sendiri. Maksudnya nasib yang bagaimana..? Apa yang lebih kacau lagi, karena nanti pasti akan berebut akhirnya jadi carut marut," ungkap Ferry Inggamer dengan logat Papuanya yang begitu kental  di Mess Papua "Cendrawasih", jl. KH. Mas Mansyur No. 63 Tanah Abang, Jakarta Pusat.

Dalam pandangan Ferry, peringatan 47 tahun PEPERA dinilai sebagai hal yang tidak demokratis mengingat rakyat Papua kini sudah merdeka, bahkan merdeka dalam arti yang sesungguhnya dimana Anak-anak Papua kini sudah bisa mengenyam pendidikan setinggi mungkin, bahkan sampai keluar Papua (Jakarta). Para pelajar dan mahasiswa asal Papua yang berada di Jakarta semestinya benar-benar mencari ilmu, bukan justru ikut-ikutan diadu domba. 

" Kitong su merdeka, kok mau merdeka lagi ? Lucu orang-orang ini. Dorang ULMWP dan KNPB merupakan organisasi tra benar dan tra diakui, jangan terpengaruh oleh mereka... Kitong ini su satu bangsa, bangsa Indonesia. Bagiku NKRI harga mati..! ( Kita kan, sudah merdeka, kok mau merdeka lagi? Lucu orang-orang ini.  Mereka itu ULMWP dan KNPB merupakan organisasi tidak benar dan tidak diakui, jangan terpengaruh oleh mereka.... Kta ini sudah satu bangsa, bangsa Indonesia. Bagiku NKRI harga mati...!) ", tegas Ferry.

Terpopuler

To Top