Sidang Uji Materi, Saksi Ahli Sebut BUMN Harus Dikelola Atas Dasar Asas Kekeluargaan

man-headphones

CN, Jakarta - Badan Usaha Milik Negara (BUMN) harus dikelola berdasarkan asas kekeluargaan, bukan mengutamakan modal. Demikian ditegaskan Guru Besar Hukum Tata Negara Universitas Katolik Parahyangan, Profesor Koerniatmanto Soetoprawiro saat bersaksi dalam sidang lanjutan gugatan uji materi Undang Undang Nomor 19 Tahun 2003 tentang Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dengan nomnor perkara 14/PUU-XVI/2018, pemohon Putut Prabantoro dan Letjen TNI (Purn) Kiki Syahnakri di 

Menurut Prof Koerniatmanto, ada dua pasal UU BUMN yang digugat, yakni Pasal 2 Ayat 1 (a) dan (b) yang berisi tentang maksud dan tujuan pendirian BUMN serta Pasal 4 Ayat 4 tentang perubahan penyertaan keuangan negara. Pemohon menilai dua pasal tersebut tidak sesuai dengan semangat pembangunan ekonomi, “bunyi ketentuan Pasal 2 ayat 1 (a) dan (b) UU BUMN sangat bias makna. Hal itu dibuktikan dengan tidak dicantumkannya kata kemakmuran rakyat sebagaimana disebutkan dalam pasal 33 ayat (3) UUD 1945, yang merupakan landasan utama dari pembentukan UU BUMN.” Tuturnya.

Prof Koerniatmo menjelaskan bahwa, maksud dan tujuan pendirian BUMN berdasarkan putusan MK nomor 48/PUU-XI/2013, adalah memberikan sumbangan bagi perkembangan perekonomian nasional dan penerimaan negara, serta mengejar keuntungan. "Mengejar keuntungan itu merupakan frasa yang masih koma dan belum titik. Mengejar keuntungan perlu dipertegas, bahwa hal ini demi mencerdaskan kehidupan bangsa," tegas Koerniatmanto.

Sementara itu, terkait frasa "ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah" dalam Pasal 4 ayat (4) UU BUMN, Koerniatmanto mengatakan hal tersebut telah menyebabkan penyelewengan atas makna Pasal 23C UUD 1945. "Pasal 23C UUD mengamanatkan perubahan penyertaan modal pada BUMN diatur dengan Undang Undang telah didegradasi menjadi penyertaan modal ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah," pungkas Koerniatmanto.

Pada kesempatan yang sama, akademisi Universitas Mulawarwan, Bernaulus Saragih menilai penyertaan modal oleh pemerintah terhadap Badan Usaha Milik Negara (BUMN) harus melalui mekanisme kontrol yang baik. Sehingga, BUMN bisa lebih bertanggungjawab. "Bahwa penyertaaan modal oleh pemerintah terhadap BUMN dari uang rakyat atau APBN harus melalui mekanisme yang dapat dikontrol oleh rakyat dan respresentasinya. Sehingga BUMN dapat lebih bertanggungjawab terhadap pemanfaatan kekayaan alam Indonesia yang lebih berkeadilan, serta bertanggungjawab dalam menjaga kelestarian SDA dalam mendukung pembangunan yang berkelanjutan di Indonesia," tutur Bernaulus.

Menurut Bernaulus, saat ini yang juga menjadi persoalan adalah BUMN tidak banyak memberikan kontribusi yang besar terhadap masyarakat disekitar lokasi BUMN mengolah sumber daya alam. “Dalam kasus-kasus pertambangan liar, banyak masyarakat ikut melakukan penambangan liar karena khawatir tidak memperoleh hasil-hasil alam ditempat mereka tinggal, begitu pula yang terjadi pada perkebunan.” Jelasnya.

Sebelumnya, dalam permohonannya, pemohon menyebut keberadaan pasal-pasal tersebut diselewengkan secara normatif dan menyebabkan terbitnya peraturan turunan, yakni Peraturan Pemerintah Nomor 47 Tahun 2017 tentang Penambahan Penyertaan Modal Negara Republik Indonesia ke dalam Modal Saham Perusahaan Persero. 

Dalam PP yang juga dikenal dengan PP Holding BUMN Tambang, tiga BUMN dialihkan sahamnya kepada PT Indonesia Asahan Aluminium Persero (Inalum). Tiga BUMN tersebut, yakni Perusahaan Perseroan (Persero) PT Aneka Tambang Tbk, Perusahaan Perseroan (Persero) PT Timah Tbk, serta Perusahaan Perseroan (Persero) PT Bukit Asam Tbk.

Pemohon juga menilai, Pasal 4 ayat (4) UU BUMN menunjukkan akibat dari penyertaan modal negara pada BUMN lain. Sehingga BUMN tersebut menjadi anak perusahaan BUMN lainnya.

Ketentuan ini telah menghilangkan BUMN dan dapat dikategorikan sebagai privatisasi model baru karena adanya transformasi bentuk BUMN menjadi anak perusahaan BUMN tanpa melalui mekanisme APBN dan persetujuan DPR RI.

Terpopuler

To Top