Dosen Biologi UNAS, Dr. Sri Suci Atmoko Masuk Nominasi Indianapolis Prize 2017

man-headphones

CN, Jakarta - Indianapolis Zoo, Amerika Serikat baru saja meliris daftar nominasi untuk penghargaan bergensi di bidang konservasi satwa, Indianapolis Prize, Selasa (12/9/2017). Dari 32 finalis tersebut, Dr. Suci Utami Atmoko, merupakan satu-satunya perwakilan Indonesia yang masuk dalam daftar tersebut. Dr. Suci merupakan dosen Fakultas Biologi dan Sekolah Pascasarjana Magister Biologi Universitas Nasional, yang aktif melakukan konservasi satwa, khususnya Orangutan.

Para nominator Indiana Prize dipilih karena dianggap berpengaruh dan memiliki kontribusi nyata terhadap konservasi fauna. Tidak hanya menyelamatkan spesies fauna, namun juga populasi dan ekosistemnya. Masuknya Suci dalam daftar nominasi penghargaan Indianapolis Prize ini, tidak terlepas dari kiprahnya selama 30 tahun di bidang konservasi orangutan.

Menanggapi hal ini, Suci mengaku sangat senang dan mengapresiasi hal tersebut. Nominasi Indianapolis Prize ini, lanjutnya, juga menjadi bukti semakin diakuinya peneliti-peneliti Indonesia di mata dunia.

‘’Saya sangat mengapresiasi hal ini, karena ini artinya dunia Intenasional mulai melihat peneliti Indonesia. Selain itu, konservasi primata di Indonesia juga semakin bermakna di mata dunia dan saya berharap hal ini dapat menjadi tauladan bagi semua peneliti dan generasi muda Indonesia,’’ ungkap Suci, kepada Humas Universitas Nasional, Rabu (13/9/2017).

Michael Crowther, Presiden dan CEO Indianapolis Zoo, mengatakan para finalis Indianapolis Prize  2017 ini adalah para konservasionis yang paling penting dan berprestasi di lapangan saat ini.

Mereka, lanjut Michael, berasal dari berbagai negara dan lintas benua, yang memfokuskan diri pada satwa unik dan menjadi simbol, dari primata, mamalia laut hingga reptil dan burung. Tahun ini, Indianapolis Prize membawa lebih banyak koleksi penelitian individual dari ekosistem Asia, termasuk satwa-satwa yang populasinya dalam bahaya, seperti orangutan, macan tutul salju, harimau, dan kukang.

Nantinya, ke 32 finalis ini akan diseleksi kembali menjadi 6 pemenang. Pemenang pertama akan mendapatkan hadiah utama berupa uang tunai sejumlah 250.000 dolar Amerika Serikat dan lima finalis lainnya, masing-masing akan mendapat 10.000 dolar Amerika Serikat. Para pemenang juga akan mendapatkan Mendali, untuk pencapaiannya. 

Pemenang Indianapolis Prize akan ditentukan oleh juri yang terdiri dari para peneliti dan pemimpin konservasi terkemuka di dunia dan penganugerahan Indianapolis Prize akan digelar 29 September 2017. Indianapolis Prize merupakan penghargaan bergensi untuk para penggiat konservasi satwa, yang sudah diadakan sejak 2006.

Berikut 5 dari 32 finalis Indianapolis Prize:

1. Sri Suci Atmoko, Ph.D (Universitas Nasional) – peneliti dengan pengalaman 30 tahun mempelajari reproduksi, populasi dan konservasi spesies Orangutan. Suci dikenal sebagai salah satu peneliti di bidang orangutan dan perubahan kebijakan konservasi hutan yang paling berpengaruh;

2. Purnima Devi Barman, Ph.D. (Aranyak) – Penggiat lingkungan yang fokus pada upaya konservasi adjutant Storks(jenis burung bangau) di India. Ia melakukan kampanye untuk memastikan bangau ini dapat bertahan hidup, mengubah stigma akan bangau ini yang sebelumnya dianggap sebagai petanda buruk;

3. Lisa Dabek, Ph.D. (Papau New Guinea Tree Kangaroo Conservation Program; Woodland Park Zoo) — PendiriTree Kangaroo Conservation Program, bertanggung jawab terhadap konservasi area yang pertama kali ada di Papua New Guinea, menggunakan teknologi Crittercam untuk pertama kalinya, guna mengamati mamalia yang hidup di atas pohon;

4. Rodney Jackson, Ph.D. (Snow Leopard Conservancy) — Melakukan penelitian mendalam menggunakan radio tracking untuk macan tutul salju sejak tahun 1980;

5. Anna Nekaris, Ph.D. (Oxford Brookes University; Little Fireface Project) — Mengepalai penelitian tentang ekologi dan wilayah Kukang. Sebagai direktur Little Fireface Project, melakukan survei, radio tracking, pariwisata yang ramah lingkungan dan penghijauan kembali.
 

Terpopuler

To Top